Tanpa Suara, Beda Artinya
Ia menyatakan perlunya pemerintah melakukan penelusuran forensik digital dan psikologi dari setiap pekerja WNI yang meminta pertolongan untuk dipulangkan. Direktur Eksekutif Migrant CARE, Wahyu Susilo, menyebut keberadaan lowongan itu berbahaya karena para pekerja cenderung mengesampingkan keamanan dan kredibilitas mamibet perusahaan, apalagi saat mereka di tengah kesulitan finansial. Ada kalanya lowongan mencantumkan bahwa pekerjaannya adalah love scam. Komunikasi daring dilakukan lewat ponsel dan gawai lain yang disediakan perusahaan untuk keperluan pekerjaan. Sementara itu, pakar keamanan siber Pratama Persadha menyatakan bahwa pemerintah Indonesia sebetulnya memiliki sumber daya yang cukup untuk mengungkap aktor-aktor di balik perdagangan orang.
Krisis Iklim Menguat, Indonesia Butuh Komitmen Politik Kuat untuk Memitigasinya
- “Tidak tertutup kemungkinan ada keterlibatan negara dalam memfasilitasi terjadinya perdagangan orang, misalnya adanya jalur VIP yang menjanjikan kemudahan bepergian tanpa pengawasan imigrasi,” tambahnya.
- “Tabunganku Rp65 juta habis diperas,” kata Kiki Rizky (35) tentang pengalamannya bekerja di Kamboja.
- Ketika kembali ke Indonesia pada Agustus 2025, Fadly bertekad untuk membuat video-video seputar kondisi kerja para WNI di pusaran industri penipuan daring, salah satunya love scam.
- Di KBRI Phnom Penh, Kiki melaporkan diri sebagai korban tindak pidana perdagangan orang.
- Mereka pun berupaya ke luar dengan cara kabur, membayar denda kepulangan, dan mencari pekerja pengganti atau istilahnya ‘tukar kepala’.
Banyaknya pesan yang masuk ke ponsel Fadly pada Januari 2026 berjalan beriringan dengan peningkatan jumlah pekerja migran asal Indonesia yang datang ke KBRI Kamboja. Dari tempat cukur itulah berbagai kisah jual beli WNI di sindikat penipuan daring dan situasi kerja di perusahaan penipuan daring mulai Fadly dengar. Ketika bekerja di sebuah tempat cukur rambut di Kamboja, Fadly kerap melayani para WNI yang bekerja di perusahaan penipuan daring. Aku lihat sekitar 95% WNI yang kerja di kantor penipuan daring, termasuk bos di level menengah, perekrut adalah orang Indonesia. “Pernah aku sampai enggak tidur beberapa hari karena merespons (berbagai pesan) orang yang berbeda,” sambung Fadly yang juga pernah bekerja di Kamboja. Isi pesannya adalah permohonan bantuan dari para warga negara Indonesia (WNI) yang terjebak bekerja dalam sindikat penipuan daring di Kamboja.
Steven Vitoria, Mantan Pemain Timnas Kanada Gabung Jadi Staf Pelatih Timnas Indonesia
Sementara Kiki berharap, “Jangan sampai ada korban berikutnya. “Struktur ketenagakerjaan yang rapuh, ketimpangan upah, dan kondisi kerja yang tidak layak,” tutur Wahyu. Yang secara sadar berniat menjadi pelaku penipuan daring dan melakukan kejahatan, dihukum,” tambahnya. Yang berubah dari korban jadi pelaku, bisa dijadikan whistleblower. Santo mengungkap perlunya kampanye edukasi terkait kejahatan siber dan kerja sama bilateral antara Indonesia dan Kamboja untuk penanganan kasus. Saya tidak tahu bagaimana kebijakan mereka tapi iklan-iklan ini tetap muncul,” tutur Wahyu.
“Aku cari pertolongan via media sosial soal apa yang bisa kulakukan agar bisa pulang. Kiky berhasil keluar setelah membayar sejumlah uang yang diminta tim HRD, tepat lima bulan setelah bekerja di perusahaan itu. Sesampainya di Kamboja, ia mengaku diantar ke Crown Casino Krong Bavet dan bekerja sebagai telemarketing perusahaan love scam. Sebagian besar WNI itu terjerat dalam sindikat penipuan daring baik judi online maupun bisnis love scam yang berkedok perusahaan judi. Ketika kembali ke Indonesia pada Agustus 2025, Fadly bertekad untuk membuat video-video seputar kondisi kerja para WNI di pusaran industri penipuan daring, salah satunya love scam. Mereka pun berupaya ke luar dengan cara kabur, membayar denda kepulangan, dan mencari pekerja pengganti atau istilahnya ‘tukar kepala’.
“Tidak ada kontrak kerja, aku dibayar sekitar Rp6 juta per bulan,” tutur Kiki. Hp, dompet, paspor disita perusahaan,” lanjut Kiki lewat sambungan telepon dengan DW Indonesia. “Tabunganku Rp65 juta habis diperas,” kata Kiki Rizky (35) tentang pengalamannya bekerja di Kamboja. Peningkatan jumlah WNI yang bekerja di Kamboja terjadi sejak awal masa COVID-19 pada 2020. Sembari berupaya menghubungi keluarga para WNI yang minta pertolongan, Fadly memberi tahu mereka cara terhubung dengan Kedutaan Besar Republik Indonesia di Phnom Penh Kamboja (KBRI Phnom Penh). Fadly bercerita, ponsel pribadi milik sebagian besar WNI yang menghubunginya, disita perusahaan.
«Banyak kategori, pertanyaan variatif kami menanyakan apakah pernah melapor, menerima gaji dan berapa jumlahnya, kendala di pekerjaan, bisa keluar/masuk tempat kerja atau tidak,» kata Santo. «Sampai saat ini kami belum menemukan individu yang nyata terlihat terindikasi sebagai korban tindak pidana perdagangan orang,» tambah Santo. Seluruh korban yang mengadu ke Migrant CARE direkrut melalui media sosial dan aplikasi pesan, salah satunya Telegram dan WhatsApp group,” jelas Wahyu. Di KBRI Phnom Penh, Kiki melaporkan diri sebagai korban tindak pidana perdagangan orang. Ia dijanjikan pekerjaan, kemudahan perjalanan, dan gaji bulanan sekitar Rp11 juta per bulan. Pada awal tahun 2024 Kiki bekerja sebagai tim telemarketing di sebuah perusahaan penipuan daring di Sihanoukville, Kamboja.
